Connect with us

PALEMBANG

Keluarga Korban Minta Pemutilasi Anaknya di Hukum Mati

Published

on

Terdakwa terbukti membunuh dan memutilasi tubuh korban meskipun gagal, namun tindakannya membeli koper dan menjual beberapa barang bukti dianggap sebagai kesengajaan menghilangkan jejak.

Sumselraya.com, Palembang – Keluarga korban pembunuhan dan mutilasi di Palembang, Sumatera Selatan, menginginkan terdakwa oknum TNI divonis setimpal dengan hukuman mati karena kejahatannya sudah terbukti.

Sebelumnya Oditur Mayor Chk Darwin Butar Butar di Pengadilan Militer I-04 Palembang, Kamis (22/8/2019) menuntut terdakwa anggota TNI Prada Deri Permana dengan Pasal 340 tentang pembunuhan berencana dengan pidana pokok penjara seumur hidup dan dipecat dari TNI.

“Saya kurang puas dengan tuntutan itu, kami ingin dia (terdakwa) dihukum mati karena dia sudah terbukti membunuh anak saya,” kata Ibu korban pembunuhan, Suhartini, menanggapi tuntutan oditur usai persidangan.

Menurutnya, terdakwa Prada Deri Permana (DP) tidak menunjukkan rasa penyesalan telah berniat dan membunuh anaknya, Fera Oktaria pada pertengahan Mei 2019.

Bahkan, kata dia, upaya Prada DP memutilasi dan membakar korban dianggapnya tindakan di luar rasa kemanusiaan yang seharusnya menjadi pertimbangan oditur dalam menuntut.

“Sakit hati saya, apa salah anak saya sampai dia mau coba menghilangkan jasadnya (Fera),” tambah Suhartini.

Sementara keluarga Prada DP nampak syok dan pasrah dengan tuntutan penjara seumur hidup dari oditur serta enggan berkomentar saat didekati para pewarta.

Terdakwa sendiri langsung mengajukan pledoi dan masih harus mendekam di tahanan.

Pada persidangan keenam tersebut, Oditur menilai niat terdakwa untuk membunuh lewat percakapan antara terdakwa dan temannya yang menyebut korban akan dibunuh jika ketahuan memiliki pacar lain.

Niatan juga terbukti dari tindakan terdakwa yang berbohong dengan membawa korban ke penginapan, padahal terdakwa mengatakan ingin ke rumah bibinya.

Terdakwa terbukti membunuh dan memutilasi tubuh korban meskipun gagal, namun tindakannya membeli koper dan menjual beberapa barang bukti dianggap sebagai kesengajaan menghilangkan jejak.

Pada lima persidangan sebelumnya terdakwa juga terbukti sempat ingin membakar tubuh korban walau kembali gagal, kemudian terdakwa kabur meninggalkan jenazah korban di penginapan. (ant)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PALEMBANG

Gubewrnur Sumsel Berani Mundur Jika Tuntutan Mahasiswa tak Terpenuhi

Published

on

Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru.

Sumselraya.com, Palembang – Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyatakan dirinya berani mundur jika tidak mampu memenuhi enam tuntutan mahasiswa terkait kebakaran hutan dan lahan serta bencana asap.

Sebelumnya, Selasa (17/9/2019) ratusan mahasiswa yang mengatasnamakan Gerakan Aliansi Sumsel Melawan Asap (G.ASMA) menyuarakan enam tuntutan terkait karhutla dan asap di Kantor Gubernur Sumsel, sempat terjadi kericuhan karena mahasiswa menginginkan Herman Deru datang langsung menemui peserta aksi.

“Tuntutan pertama, tangkap, adili, dan cabut izin perusahaan pembakar lahan di Sumatera Selatan,” kata Koordinator aksi sekaligus Presiden Mahasiswa, Ni’matul Hakiki Vebri Awan saat orasi.

Tuntutan kedua, kata dia, tindak tegas oknum pembakar lahan di Sumsel menurut Perda no.08 tahun 2016 pasal 17 dan 18 dan atau UU nomor 32 tahun 2009.

Tuntutan ketiga pihaknya meminta aturan hukum terkait pembukaan lahan di Sumatera Selatan sesuai pasal 56 UU 39 tahun 2014, tuntutan keempat pihaknya meminta pembentukan tim gugus tugas untuk mitigasi bencana karhutla serta pengawasan lahan gambut dan lahan yang rentan terbakar.

Lalu tuntutan kelima, memfasilitasi pelayanan kesehatan masyarakat yang terkena dampak penyakit akibat karhutla secara gratis, dan tuntutan keenam Herman Deru diminta menerbitkan Surat Keputusan Gubernur tentang kewajiban pencegahan karhutla oleh setiap perusahaan yang berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan hidup berkaitan dengan karhutla.

“Jika tuntuan G.ASMA tidak terpenuhi dan tragedi asap terulang kembali 2020 dan seterusnya, maka Gubernur Sumatera Selatan siap mundur dari jabatannya,” ujar Ni’matul.

Menanggapi tuntutan tersebut, Herman Deru hanya menyanggupi enam tuntutan inti mahasiswa, sementara ia menolak mundur jika karhutla masih terjadi tahun depan.

“Tidak ada yang bisa menjamin Karhutla tidak terjadi tahun depan, itu semua kekuasaan Tuhan, kami hanya bisa mencegah dan memadamkan ketika terjadi kebakaran, saya tidak mau mundur kalau tuntutannya seperti itu,” pungkas Herman Deru di hadapan peserta aksi.

Sempat terjadi debat antara Herman Deru dan orator mahasiswa terkait tuntutan mundur, Herman Deru bahkan mengajak mahasiswa melihat langsung lokasi karhutla agar memahami kondisi alam gambut yang terbakar.

Namun akhirnya mahasiswa sepakat menghapus tuntutan mundur mengenai jaminan karhutla tahun depan.

“Kami terimakasih karena mahasiswa sudah kritis terhadap kondisi yang ada saat ini, ini vitamin bagi saya, jadi mari sama-sama cari solusi karena kami juga tidak mau ada karhutla apalagi asap,” tegas Herman Deru.

ia menjelaskan bahwa Pemprov Sumsel sudah membentuk gugus tugas mitigasi seperti yang dituntutkan mahasiswa, bahkan ia meminta ada kolaborasi dengan perguruan tinggi di mana mahasiswa dapat ikut berperan.

Kemudian Herman Deru menandatangani enam tuntutan G.ASMA langsung dihadapan ratusan mahasiswa, aksi sendiri berakhir damai. (vin)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

PALEMBANG

Dinkes Sumsel Turunkan Tim Bagikan Masker

Published

on

Pembagian masker itu bahkan sudah dilakukan sejak pekan lalu saat kabut asap sudah mulai menyelimuti kota tersebut.

Sumselraya.com, Palembang – Dinas Kesehatan Sumatera Selatan menurunkan tim untuk membagikan masker kepada masyarakat di daerah itu.

Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Lesty Nurainy di Palembang, Selasa (17/9/2019) mengatakan, melihat adanya kabut asap pihaknya kembali membagikan masker ke sekolah-sekolah yang ada di Palembang.

Pembagian masker itu bahkan sudah dilakukan sejak pekan lalu saat kabut asap sudah mulai menyelimuti kota tersebut.
“Hari ini kami turunkan tim untuk membagikan masker ke sekolah-sekolah dan kepada masyarakat secara langsung,” ujar dia.

Pihaknya juga sudah menyuplai obat-obatan dan tabung gas oksigen ke kabupaten kota yang ada di Sumsel.

Sebanyak 60 ribu masker yang dikirim ke kabupaten dan kota untuk dibagikan ke masyarakat.

“Khusus untuk Kota Palembang, sudah kami sebar lebih dari 30 ribu masker,” kata dia.

Kadinkes mengatakan, berdasar data dari Dinkes Sumsel memang pada Agustus terjadi kenaikan jumlah penderita ISPA di daerah itu.

Pihaknya juga telah mengajukan permintaan tambahan masker kepada Kementerian Kesehatan, dan saat ini sedang menunggu kiriman.

Masker itu diharapkan mampu mengantisipasi atau sebagai alat pelindung diri terhadap asap, sehingga masyarakat tidak mudah terjangkit ISPA.

Selain itu pula kesadaran masyarakat juga sangat menentukan untuk menghindari dampak terhadap berbagai penyakit termasuk ISPA dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). (kap)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

PALEMBANG

Wakil Gubernur Ditolak Aksi Mahasiswa Tuntut Asap Ricuh

Published

on

Ribuan mahasiswa yang mengatasnamakan Gerakan Aliansi Sumsel Melawan Asap (G.ASMA) tersebut berorasi di Kantor Gubernur Sumsel, Selasa (17/9/2019).

Sumselraya.com, Palembang – Aksi mahasiswa yang menyuarakan permasalahan kebakaran hutan dan lahan berlangsung ricuh setelah Wakil Gubernur Sumsel Mawardi Yahya ditolak oleh mahasiswa pengunjuk rasa.

Ribuan mahasiswa yang mengatasnamakan Gerakan Aliansi Sumsel Melawan Asap (G.ASMA) tersebut berorasi di Kantor Gubernur Sumsel, Selasa (17/9/2019) sekitar pukul 14.30 WIB, namun wakil gubernur yang berusaha menjelaskan permasalahan asap ditolak mahasiswa karena mahasiswa hanya ingin bertemu gubernur.

“Jika memang masih ingin menemui gubernur maka tunggulah sampai sore atau malam, wassalamualaikum,” kata Wakil Gubernur Mawardi Yahya di depan mahasiswa, ia kemudian masuk ke kantor gubernur dikawal ketat personel kepolisian.

Kemudian Wakapolda Sumsel Brigjen Pol Rudi Setiawan berusaha mengambil alih penjelasan dengan mencoba menuju panggung orasi, namun mahasiswa tidak membuka jalan dan terjadi saling dorong.

Aksi saling dorong tersebut memancing mahasiswa yang ada di belakang maju ke depan dan ikut mendorong barikade polisi, alhasil saling pukul terjadi antara mahasiswa dan polisi.

Aksi lempar botol dari mahasiswa semakin memanaskan situasi, beruntung polisi yang menyiagakan mobil water canon dan Anjing K9 tetap bersiaga di tempat karena kericuhan dapat dikendalikan.

Dua orang mahasiswa terpaksa ditandu karena kepalanya pecah diduga akibat pukulan polisi dan langsung ditangani petugas kesehatan Polresta Palembang.

Aksi mahasiswa tersebut menuntut Pemprov Sumsel melawan korporasi yang berulang kali lahannya terbakar, mereka menganggap ada kongkalikong yang menyebabkan hutan serta lahan terus terbakar setiap tahun.

“Kami di sini mewakili masyarakat yang sudah tidak tahan menghirup asap, Asian Games kemarin bisa bebas asap kenapa tahun ini tidak bisa?,” ujar mahasiswa saat berorasi.

Sementara Wakapolda Sumsel Brigjen Pol Rudi Setiawan terus melanjutkan penjelasannya sembari meredam situasi aksi.

“Ini polisi TNI siang malam memadamkan api, kami militan, meninggalkan keluarga demi redamnya Karhutla, mari sama-sama cari solusi,” kata Brigjen Pol Rudi di hadapan mahasiswa.

Aksi mahasiswa sendiri berakhir sementara dengan solat Ashar berjamaah di depan Kantor Gubernur Sumsel, mahasiswa masih memilih menunggu Gubernur Sumsel Herman Deru dan enggan memberikan keterangan kepada pers. (ant)


Media Indonesia Raya menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redindonesiaraya@gmail.com, dan redaksi@indonesiaraya.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending